Kamis, 09 Oktober 2014

Bukan Cerita Biasa


Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.

Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.
***

Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.

Begini ceritanya,

Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.

Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.

Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.

Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
***

Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.

Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan.

Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.

Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.

T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.

“Kenapa Reza menangis.”

“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.

“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.

Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.

“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.

Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”

“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”

“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”

“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”

Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.

“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”

“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”

“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.

“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”

“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.

“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”

“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”

“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.

Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.

Puisi Penantian Cinta

Biarlah ku simpan
Kata cinta yang tak terucapkan
Biarlah ku genggam
Rasa cinta yang semakin mendalam
Dibawah sinar bulan purnama
Saat sang dewi malam bertahta
Ku ikrarkan janji setia
Untuk menantimu selamanya
Tapi…
Mungkin sudah takdirku
Terlahir untuk mencintaimu
Meski ku tak bisa memilikimu
Sampai akhir nafasku
Hanya dirimu yang selalu ku tunggu
Penantian…

Mencintai Walau Disakiti


Hay, namaku vika prasis, aku biasa dipanggil Vika, aku memiliki seorang kekasih yang beranama Dwi teguh arefianto panggil saja ia Reef, kita sudah pacaran lebih dari 4 tahun, dan kini kita memutuskan untuk menikah, keluarga dan teman teman ku pun sangat menyukai reef, karena reef sosok yang sempurna buat mereka, Karena aku selalu menutupi kebohongannya, ya Reef sudah memiliki seorang istri dan seorang anak laki-laki yang berusia 3 tahun, tapi aku tak pernah berkata jujur tentang hal ini kepada keluarga ku maupun teman teman ku, kedengarannya mungkin aku jahat, telah merebut suami orang, tapi ini semua Karena kami saling mencintai.
Tibalah hari yang ku tunggu-tunggu, hari ini adalah hari pernikahan ku dengan reef, tampak jelas raut bahagia di wajah aku reef dan seluruh tamu yang hadir, “selamat ya vika” “semoga langgeng ya sama reef” “semoga cepet punya baby ya”. yap begitulah kira kira ucapan yang dilontarkan oleh para undangan yang hadir di acara ku.
Acara pun telah usai, aku dan reef segera membersihkan badan, dan menikmati malam pertama kami.
Hari-hari kami jalani dengan indah, penuh cinta di antara kami, namun reef suamiku sering kali meninggalkanku keluar kota untuk urusan kerjanya, namun aku coba untuk mengerti dia, mengerti tentang pekerjaannya. selama reef pergi, sesekali aku kunjungi istri pertamanya, dan tak jarang aku bawa bingkisan untuk Calief anak mereka, aku menyayangi calief seperti anak ku sendiri.
Ketika reef pulang dan tak ada kerjaan ke luar kota, ia sesekali menemaniku untuk jalan jalan keluar, namun terkadang ia sempatkan untuk pergi ke rumah istri pertamanya, memang mulut ku bisa menerima keadaan ini, tapi tidak dengan hati ini, sungguh perih sekali, hinnga suatu saat tiba tiba aku menanyakan perasaannya, “mas, aku mau tanya boleh” ucap ku pada reef, yang sedang asik dengan laptopnya, “apa sayang?” ucap reef dengan manis kepadaku, “kamu sayang sama aku?” ucap ku dengan nada rendah, “kok kamu tanya gitu sih?” ucap reef lembut sambil membelai rambutku, “gak papa, maaf ya mas,” ucap ku lirih, “kamu kenapa sih?” tanya reef yang kini duduk di hadapanku, aku pun hanya terdiam, “bicara aja” ucap reef lagi, “aku cemburu kalo kamu ke tempat mba Carla (istri pertama reef)” ucap ku lirih, “maafin aku ya” ucap reef singkat dan langsung memeluk tubuhku. aku pun tak melanjutkan pertanyaan ku dan mulai terlelap dalam pelukannya.
2 tahun kemudian, aku belum juga memiliki buah hati, reef menyuruhku untuk periksa ke dokter, tapi aku takut dengan pernyataan dokter nanti, “yuk kita ke dokter” ajak reef, “hmm, aku gak mau” ucap ku menolak ajakan reef, “kenapa sayang?” tanyanya lagi, “aku takut” ucapku singkat, “takut apa” ucap reef merangkul pundakku, “bagaimana kalau dokter mengatakan yang tidak enak?” ucap ku lirih, “sayang, apapun pernyataan dokter nanti, aku akan tetap terima kamu apa adanya kok” ucap reef menenangkan ku, aku pun menyetujui ajakan reef untuk ke dokter.
Sesampainya di dokter, aku dan reef pun segera masuk ke dalam ruangan dokter dan memulai untuk periksa, “gimana istri saya dok?” ucap reef yang duduk berhadapan dengan dokter yang sudah memeriksa ku, “rahim istri bapak tidak kuat untuk mengandung pak, itu dikarenakan semasa muda istri bapak sering mengkonsumsi makanan yang tajam” ucap dokter memberitahu, terlihat jelas sekali tampak raut sedih di wajah suamiku, “maksud dokter tajam itu apa?” tanya suami ku yang ingin sekali mengetahui penyebab sakit ku, “istri bapak terlalu sering mengkonsumsi makanan pedas, itu yang membuat ia seperti sekarang” ucap dokter menjelaskan, mendengar ucapan dokter aku pun tak kuasa menahan airmata ku, ku teteskan bulir airmata ini karena kesalahan ku dahulu yang tak menjaga kesehatan ku, dan aku belum bisa menjadi seorang istri seutuhnya dan aku belum bisa membahagiakan suamiku, reef pun menoleh ke belakang menatap aku yang sedang terisak tangis, reef pun segera menghampiriku dan mendekap tubuhku penuh hangat, dan akhirnya kami pulang ke rumah kami.
Sesampainya di rumah reef dengan penuh kasih sayang menenangkan ku “gak usah sedih sayang, kalo rezeki, kita pasti punya anak” ucap reef membuatku merasa sedikit tenang, “tapi maaf, kau belum bisa bahagiain kamu” ucap ku pada reef, “aku udah bahagia kok memiliki kamu” ucap reef sambil memcium keningku dengan mesra. ya tuhan aku merasa menjadi wanita beruntung bisa memilikinya.
3 tahun kemudian, aku tak kunjung hamil, hingga ku lihat perubahan besar pada suamiku ini, ia jadi sering berpergian dan jarang sekali ada di rumah. Suatu hari reef memaksa ku untuk pindah rumah, dengan alasan rumah yang kami tempati sudah tidak bagus lagi, padahal menurutku rumah ini masih baik baik saja, akhirnya kita pun mengontrak sebuh rumah kecil di daerah cilandak, aku seperti tinggal sendri di rumah baru ku, karena suami ku yang jarang pulang, kecemasan dan kekhawatiran terus mengelayuti perasaan ku, hingga akhirnya ku dapati kabar dari teman terdekatnya, bahwa ia telah menikah lagi dengan seorang perempuan yang tak lain adalah atasan di kantornya, oh tuhan betapa sakit hati ini mendapati kabar seperti itu, dan terlebih alasan sebenarnya reef menyuruhku pindah rumah adalah, karena istri barunya tinggal di daerah itu, aku menanggis dan terus menangisi, namun aku berusaha agar tak ada yang mengetahui airmata ku dan mengetahui kelakuan suamiku.
Hingga orangtuaku datang mengunjungi ku, “vika, reef mana?” ucap mama ku yang sudah tua, “ehm, reef lagi keluar kota mah” ucap ku berusaha tegar, “oh gitu, kamu sendrian?” tanya mama ku lagi, “iyalah ma, sama siapa lagi” ucap ku dengan senyum sedihku.
Berhari hari aku jalani hari hari ku sendri, tanpa ada suami yang menemani ku, ingin aku bercerita tapi aku binggung harus bercerita dengan siapa, hingga aku putuskan aku cerita kepada sahabatku Rivi, rivi ia begitu mengerti perasaan ku, berkali kali ia berusaha mengajakku jalan agar daapt ku lupakan semua masalah ini namun tak bisa ku lupakan begitu saja.
Hingga tiba bulan ramadhan, aku laluinya sendri pula, aku sahur, aku berbuka hingga aku shalat tarawih sendri, miris hatiku mengingat semua, ingin aku mengakhiri semua ini tapi perasaan cinta ini masih saja ada untuknya. suara Bedug pun sudah berkumandang dimana mana, pertanda bahwa ramadhan akan segera berakhir, aku ditelpon mama mertua ku untuk lebaran disana, akhirnya aku pun segera berangkat kesana.
Setibanya disana aku disambut dengan hangat oleh keluarga suamiku disana, dan betapa terkejut aku, ketika kulihat reef datang dengan istri barunya yang sedang mengandung seorang anak, “ya tuhan cobaan apalagi ini” gumam ku dalam hati, aku berusaha sekuat mungkin agar tak meneteskan airmata ku, mama mertua ku selalu mendukung aku, dan tak perdulikan istri barunya reef, itu pun menjadi semangat kecil dalam hatiku untuk tetap tegar.
Malam pun tiba, dimana aku harus tidur satu ranjang dengan suamiku dan madu ku, rasa sakit terus berkecamuk dalam hatiku, rasanya aku berlari dan berteriak sekuat tenaga, namun aku coba untuk sabar dan ikhlas. hari lebaran pertama dan kedua aku lalui di tempat mertua ku, dan aku diantar pulang oleh adik ipar ku sampai di jakarta.
Setelah kejadian saat malam idul fitri itu, aku terus merenunggi kesalahanku, tak henti aku mohon ampun kepada allah, atas segala kesalahanku yang tak bisa menjaga suamiku, hingga ku putuskan untuk bercerai dengan reef, perlahan aku cerita kepada kakak ku yang pertama kezia, dan aku mohon pada kezia agar tidak bercerita pada siapapun dulu, terlebih kepada mama ku, “zia, aku mohon, jaga rahasia ini dulu ya” ucap ku menanggis dalam pelukan kakak ku, namun ternyata kezia bercerita lagi kepada kakak ku yang lebih tua darinya, ya dia cherly, kak cherly pun datang ke rumah ku, bertanya yang sebenarnya terjadi padaku, alhasil aku pun menceritakan semua kepadanya, “ya allah, gak disangka, reef yang kelihatan baik, ternyata seperti itu” ucap kakak ku dengan airmata yang ikut menetes di wajahnya, “udah, kamu tinggal sama kakak aja ya, gak usah kamu ketemu lagi sama reef” ucap kakak ku yang mulai membenci reef.
Aku pun menyetujui untuk pindah ke rumah kaka ku, disana aku ditanya tanya tentang tahun tahun yang aku jalani, “kenapa kamu terus bertahan?” ucap kak kezia, “aku sayang, aku cinta sama reef kak” ucap ku sedih, “tapi reef gak cinta sama kamu” ucap kakak ku yang bernama steffy, “reef sayang kak sama aku, aku yakin reef masih cinta sama aku” ucap ku kekeuh dengan pendirian ku, “kalo reef sayang sama kamu, dia gak mungkin lukai perasaan kamu seperti ini” ucap kak cherly, aku pun hanya mampu menangisi semua yang telah terjadi di hidup ku.
Esoknya aku memberanikan diri untuk bertanya pada mama ku, Karena orangtua ku hanya tinggal mama, “mah, kalo aku cerai dari reef, gimana?” tanya ku dengan hati yang ku paksa untuk tegar, jelas sekali tampak wajah kaget, kecewa, sedih jadi satu di wajah mama ku, “emang ada masalah apa?” tanya mama ku lirih tanpa airmata yang menetes, “udah gak cocok aja mah” ucap ku pelan, “apa gak bisa diperbaiki? coba difikirin lagi” ucap mama ku yang terlihat seperti terbebani, “aku udah fikirin mah, aku yakin” ucapku mantap, mendengar ucapan ku mama hanya diam tak berkomentar apapun, aku tahu sekali sakit yang mama rasakan mendengar aku ingin bercerai, setelah aku bicara seperti itu, aku lihat mama ku selalu murung, dan diam seperti melamun, aku gak tega ya allah melihatnya, perlahan tapi pasti aku mulai menceritakan yang sebenarnya, alhamdulilah mama ku bisa memahami ku, mama ku memang sosok yang penyabar dan kuat, itu yang selalu aku contoh dalam kehidupan ku.
Kini aku tak lagi sendiri, aku tinggal bersama keluarga yang sangat menyanyangiku, dan sahabat sahabat ku yang mencintai aku. Dan kini aku telah memiliki seorang kekasih yang beranama imam, dia baik, dia duda ditinggal mati istrinya, ia memiliki 3 orang anak dan mengurusnya sendiri, dia memang sosok laki-laki yang hebat, tapi jujur perasaan ku masih saja milik reef. Berbulan-bulan berpacaran dengan imam, aku tau ia sangat mencintai ku, tapi aku belum bisa merasakan tulusnya cinta dari hatinya, aku pun mulai melayangkan gugatan cerai ke pengadilan, hari pertama sidang, reef suamiku tak kunjung datang, ternyata reef saat ini tengah sakit keras, aku pun tak tega mendengar kabar itu, terlebih lagi istri barunya sekarang meninggalkan reef ketika ia tau reef sakit, aku pun segera pulang ke kampung mertua ku, sesampainya disana aku langsung diajak oleh mertua ku ke rumah sakit untuk melihat suamiku, dan ku lihat disana, sosok suami yang dulu bertubuh besar, kini ia berubah menjadi kurus dan berbaring tak sadarkan sejak 2 hari lalu, ya suamiku koma kini, airmata ku tak bisa aku bendung lagi, aku menanggis menatap wajah suamiku, “reef terkena kanker otak stadium 3 vik” begitulah ucapan mama mertuaku, “ya allah, kenapa harus seperti ini? jangan siksa ia, aku gak sanggup melihatnya” ucap ku dalam tangis, ku genggam erat tangagnnya, ku berbisik kata cinta di telingganya, kebesaran Allah, suami ku mulai membuka kembali matanya, tapi betapa terkejutnya aku, ia tidak mengenali ku, bahkan tidak mengenali orangtuanya, miris sekali hati ini melihat dia berbaring lemah tanpa ingatan apapun, apa yang harus aku lakukan.
Keesokan harinya aku kembali ke Jakarta, aku ceritakan semua yang telah terjadi pada reef suami ku.
“biarin vik, itu karma buat dia yang udah nyakitin kamu” itulah ucapan yang terlontar dari mulut kakak ku cherly, “kak, aku mohon, lupain itu, kini dia bener bener sakit kak, dia kena kanker otak stadium 3” ucap ku dengan airmata yang menetes, kakak ku pun diam ketika aku mengatakannya, “dia udah gak kenal siapa siapa lagi, aku masih sayang sama reef, aku akan jaga dia sampai habis waktunya” ucapku sambil mengusap airmata yang berlari di pipiku. semua hanya diam dan mengizinkan ku untuk menjaga suami ku reef.
Aku pun segera menghubungi imam kekasih ku saat ini, aku ajak ia untuk bertemu, kami pun bertemu di salah satu café di Jakarta, “vik, setelah pengadilan pun selesai, aku akan menikahi mu” ucap imam dengan lantang, ucapan itu pun membuat ku semakin binggung, tapi aku coba untuk mengatakannya, “imam, aku rasa hubungan kita cukup sampai disini aja” ucap ku sambil memejamkan mata, karena kau tak ingin terlihat lemah di hadapannya, “loh? Kenapa vik? Aku salah apa? ” tanyanya sambil mengenggam kedua tanganku, aku pun melepaskan genggamannya, “kamu gak salah, tapi aku akan kembali kepada suami ku reef” ucap ku yang sangat mengagetkan dia, “kamu bercanda kan?” ucap imam, “gak, maafin aku mam, aku Cuma cinta sama suami ku” ucap ku yang terdengar lirih, “suami kamu udah nyakitin kamu vik, khianati kamu” ucap imam ingin melunturkan cintaku, “aku gak peduli mam, mungkin saat itu reef khilaf” ucap ku yang langsung meninggalkan imam sendri di café itu, “kamu benar benar berhati suci vika, gak ada dendam sedikit pun di hati kamu, aku akan tetap nunggu kamu disini” ucap imam.
Aku pun segera pulang ke rumah kakak ku, aku mengajak mama dan kakak ku untuk ikut menjengguk reef di kampungnya, aku juga bawa beberapa baju Karena aku akan tinggal disana untuk merawat reef.
Sesampainya di kampung, aku langsung menuju rumah sakit, ku masuki ruangannya, kulihat mertua ku menanggis sedih dengan keadaan reef yang semakin kritis, ternyata tak hanya aku yang menanggis, mama dan kakak aku pun ikut menanggis melihat suami ku reef yang terlihat sangat kurus dan tak berdaya sama sekali, “mama maafin kamu kok reef” ucap mamaku sambil mengusap lembut kepala suami ku, “kakak juga amaafin kamu reef” ucap kakak ku, lalu tibalah aku, ku jatuhkan tetes demi tetes airmataku di tangan reef, “aku maafin semua kesalahan kamu reef, aku gak bisa ngeliat kamu seperti ini,” ucap ku lirih sekali, ku lihat reef pun membuka matanya, dan menatap mataku dengan lemah, “aku ikhlas reef ngelepas kamu pergi, aku sayang banget sama kamu” ucap ku sambil mengecup punggung tangan suamiku, kulihat senyum indah di wajah reef, namun senyum itu perlahan memudar dan reef menghembuskan nafasnya yang terakhir di hadapanku, tangis ku pecah tak dapat menahan semuanya, isak tangis pun memenuhi ruangan ini, aku kecup bibir suami ku dengan lembut untuk terakhir kalinya. aku antar reef sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Aku pun kembali ke Jakarta bersama keluarga, sebelum ku pulang, mertua ku bilang, “vika, maafin reef ya” ucap mama mertua ku, aku pun hanya mengangguk pelan, kulihat mama ku dan mertua ku saling berpelukan sedih, ada tangis pula disana, namun bagiku itulah airmata pengikhlasan. Ketika aku kembali ke Jakarta, aku masih saja sedih dengan apa yang terjadi pada ku kini, tapi aku coba kuat tabah dan ikhlas.

Selasa, 03 Juni 2014

Jadikanlah Aku Lebih Dari Teman :)

“Hayooo… Lagi ngelamunin siapa?” Tiba-tiba suara Rini membuyarkan lamunan ku… dengan sedikit gelagapan aku mencoba mengalihkan perhatiannya..
“ah… gak ngelamunin siapa siapa… aku lagi dengerin musik kok.. ini dengerin aja kalau gak percaya” sambil memberikan earphone yang ada di tanganku kepadanya.
Waktu itu aku memang sedang mendengarkan musik lewat earphone sambil menatap halaman sekolah..
“Masa sih Cuma mendengarkan musik… aku gak percaya… pasti lagi ngelamunin cewek ya… ngaku aja deh.. gak usah ngeles!” Jawab Rini sambil terseyum…
“Ih.. serius kok”, jawab ku dengan nada meyakinkan.
“Sudah lah.. kenapa cewek lain sih yang dilamunin.. kan ada aku.. kenapa gak aku aja..” Rini membisikan kalimat itu di kuping kiri ku.
“Emang situ mau dilamunin?” bisik ku juga.
“Aku mau dilamunin sama kamu.. asal jangan lamunin yang jorok jorok aja” Bisik Rini kembali kepada ku
Rini adalah teman baik ku.. waktu SMP dulu kami satu sekolah di Bekasi dan sekarang di SMA malah ketemu lagi, walaupun kami beda kelas dan jurusan, aku masih dekat sama dia. terkadang aku atau dia saling menghampiri ketika waktu istirahat dan juga pada saat pulang. Kedekatan kami berdua hanya sebatas teman meskipun di dalam hati ini terbesit ingin menjadikan dia lebih dari seorang teman. Tapi aku berat untuk mengatakan hal itu dan khawatir malah dia akan menjauh dari ku.
Suatu hari Rini pernah mengajak ku untuk menemani dia ke acara ulang tahun teman sekelasnya… walaupun kami beda kelas tetapi kami masih satu angkatan yang pastinya teman dia ya.. teman aku juga. Kami berdua naik angkot menuju ke tempat acara tesebut. Sesampainya disana kami berdua habis dijadikan bahan candaan.. ada yang bilang.. wah ternyata sudah jadian ya… trus ada yang bilang kami cocok jadi pasangan, dan lain lain… bahkan yang hebohnya… kami berdua diminta duet menyanyikan lagu atas permintaan teman yang sedang berulang tahun itu.
Setelah acara selesai kami berdua pulang sambil ngobrol–ngobrol di perjalanan, sampai tak terasa kami berdua sudah hampir sampai di rumahnya. Rini mengajak ku untuk mampir sebentar ke rumahnya, karena di rumah tidak ada siapa siapa sekarang.. Ibu dan bapaknya pergi ke tempat saudaranya yang sedang hajatan, adiknya juga pergi. Mendapat ajakan tersebut aku hanya bisa mengangguk dan berkata “Iya.. tapi sebentar saja ya.. aku mau ada acara lain nanti sore”
“ah.. kok cuma sebentar sih.. kenapa gak lama aja?” jawabnya dengan raut muka yang memperlihatkan kecewa.
Sampai di rumahnya aku dipersilahkan masuk.. dan duduk di bangku teras.. Ketika Rini masuk ke dalam rumah, ibunya muncul di depan gerbang.. baru kembali dari rumah saudaranya.
“Assalamualaikum… Eh, ada nak Erwin… sudah lama datang? Rini kemana?” Tanya ibunya kepada ku.
“Walaikumsalam… saya belum lama datang bu… Rini sedang di dalam..” aku berdiri menghampiri ibunya Rini untuk memberi salam.
“Tadi kata Rini.. ibu sama bapak pergi ke tempat saudara yang sedang ada acara hajatan ya. kok pulang sendiri? bapak tidak ikut pulang bu?” Tanya ku
“Oh.. iya, tadi berangkatnya bareng sama bapak kesana, sekarang bapak masih disana.. masih bantu bantu… ibu jadi pulang sendiri.. silahkan duduk nak.. ditunggu saja ya Rininya..” Jawabnya.
Ibunya Rini masuk ke dalam rumah dan aku pun kembali ke tempat duduk..
Tidak berapa lama Rini keluar dari dalam rumah sambil membawa 2 gelas air minum..
“Win.. silahkan diminum.. maaf cuma air putih doang yang ada.. gak ada yang berwarna..”
“Gak apa-apa kok… ada warung di dekat sini kan?.. kalau mau minum yang berwarna ya tinggal beli aja ke warung” Jawabku sekenanya.
Dia tertawa mendengar jawabanku itu.
“Win, dulu aku pernah suka sama cowok. dia tetangga ku.. rumahnya cuma beda 3 rumah dari sini” Tiba-tiba Rini membuka percakapan dengan ku.
“Tapi dia sekarang sudah tiada… sudah meninggal karena Kecelakaan motor 1 tahun yang lalu” lanjutnya..
“Umur aku dengan dia beda 2 tahun lebih tua dia… sewaktu dia masih hidup. aku memang cukup dekat dengannya apalagi dengan ibunya, karena dia anak tunggal. jadi aku sudah dianggap sebagai anaknya sendiri sama kedua orangtuanya… begitupun sebaliknya sama juga dia sudah dianggap anak oleh ibu dan bapak ku.
(Ya.. aku sendiri pernah mendengar cerita ini dari Rini.. bahwa waktu itu dia suka dengan seseorang.. tapi Rini tidak pernah menyebutkan siapa namanya dan alamatnya dimana.. aku bicara dalam hati.)
“Kok diem sih…” Tiba tiba Rini mencubitku..
“Ini kan lagi dengerin kamu cerita” jawabku
Setelah itu Rini akhirnya terdiam… lama kami berdua terdiam, entah apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya saat ini..
Akhirnya aku pun membuka percakapan kembali.. “Kamu merasa kehilangan dia?”
“Ya.. aku sangat kehilangan dia… dan sampai saat ini aku pun kangen sama dia” jawab Rini.. Dia menatapku dan sekilas aku melihat ada air mata di kelopak matanya..
“Win, kalau kamu nanti sudah punya pacar, sudah ada wanita yang ada di hati kamu… kamu masih mau berteman dengan ku?, masih mau menemani aku bila ketika aku ada acara?” Tanya dia kepada ku..
(Waduh pertanyaan yang sulit aku jawab… Karena dari SMP sampai sekarang aku belum pernah punya pacar.. belum ada wanita yang dekat dan spesial karena semua aku anggap sebagai teman biasa… kecuali kamu Rin… wanita yang selalu dekat dengan ku)
“Kok kamu ditanya malah diem sih? jawab donk” Tanya Rini kembali…
“Itu sih tergantung siapa yang menjadi pacar ku nanti Rin.. kalau dia mengijinkan aku untuk menemani kamu pergi.. ya aku temani.. tapi kalau gak boleh sama dia bagaimana?” jawabku
“Masa sih sampai sebegitunya…? kan pacar kamu itu pasti sudah tahu bahwa kita sudah lama kenal… dipinjem cowoknya aja sebentar kenapa gak boleh sih..?” Rini merengut mendengar jawaban ku itu.
“Pinjem.. emang aku barang apa main pinjam?” sambil merengut juga aku menjawab pertanyaannya itu.
“Hehehehe… aku bercanda Win… ya udah lupakan aja pertanyaan ku tadi, aku gak jadi pinjem.”
Lama mengobrolnya.. tidak disangka hari sudah sore.. akhirnya aku ijin pamit mau pulang ke dia…
“Pulangnya nanti saja Win.. kita ngobrol lagi” pinta Rini setelah tahu aku mau pulang.
“Udah sore ah.. lagian juga aku mau ada acara lain…” jawabku
“Mau ada acara apa sih? sampai sebegitunya… cepat cepat mau pulang aja. emang sudah gak mau ngobrol lama dengan ku lagi ya?” Tanya Rini kembali
“Enggak kok.. aku senang bisa ngobrol lama dengan mu… tapi suwer… sore ini aku mau ada acara Rin… Acara ‘cari pacar’ ” aku menjawab sambil berdiri di sampingnya
Rini akhirnya tertawa mendengar jawabanku. sambil mencubit pinggang ku dia berkata… “Kenapa mesti ‘cari pacar’ di tempat lain sih… ada aku kok yang siap”
“Nah…?”

Jumat, 30 Mei 2014

Ukhti, Tunggu Aku Menjadi Ikhwan


Namaku Rio, lengkapnya adalah Rio Irwan Anggara. Putra seorang pengusaha kaya raya yang memiliki banyak cabang di berbagai pelosok kota di Indonesia. Fisikku tampan, berkulit putih, dan tentunya memiliki senyuman maut yang dapat meluluhkan semua siswi di sekolahku. Ah tidak, kurasa dugaannku salah kali ini. Di suatu pagi saat aku telah memasuki area sekolah, aku disambut banyak fans yang tentunya telah menantiku di hari itu yang menggunakan mobil sport keluaran terbaru. Sekeluranya aku dari benda beroda itu, aku dikelilingi oleh banyak wanita yang tidak lain merupakan siswa yang sama denganku, SMA Citra Bangsa, sekolah para anak pengusaha kaya dan bonafid di area Jakarta pusat.
Disaat aku tengah asyik menikmati kerumunan para gadis-gadis cantik itu, aktivitasku terhenti setelah dua teman setiaku menghampiri.
“Hey Bro, bawa mobil baru lagi nih!” ujar Fano, menyapaku.
“Yoi bro, biasa lah.. bokap gue lagi baik.” Jawabku yang sedang sibuk mengeluarkan diri dari kerumunan.
“Hebat loe bro, gue aja minta dari dua bulan yang lalu nggak direspon-respon sama bokap. Padahal, dia baru menangani proyek real estate. Pelit dia.” Dion curhat padaku dan Fano.
Begitulah yang terjadi jika ketiga anak pengusaha-pengusaha seperti kami berkumpul. Selalu saja saling pamer dan membicarakan hal-hal yang terdengar mengasyikkan.
Tiba-tiba perbincangan kami terhenti saat seorang gadis cantik berjilbab lebar kali panjang melangkahkan kakinya melewati kami dengan langkah menunduk.
“Alah.. dia itu sok alim bro. Di kelas saja jarang bicara, pelit kata-kata.” Adu Fano dengan menampakkan tatapan tidak suka pada gadis itu.
Anehnya, aku merasakan sesuatu yang tidak biasa di hatiku, ada sesuatu yang bergetar tatkala kulihat wajah menunduknya yang terlihat bercahaya.
“Bro, mau tantangan?” tawar Dion sembari menatap gadis itu.
Tanpa kelanjutan kata pun aku sudah paham dengan maksudnya, ia menantangku untuk mendaparkan seorang gadis berjilbab seperti dia.
“Oke, kalau gue bisa bagaimana?” sahutku mantap.
“Gue akan ngasih ticket VIP pertandingan tim favorit loe, Barcelona vs Real Madrid. Nah, secara otomatis waktu loe dua bulan untuk menaklukan hati tuh cewek.” Papar Fano kemudian.
Setelah aku menyepakati perjanjian tersebut, aku pun segera melarikan diri menuju kelas yang dimana kedua sahabatku tak berada dalam satu kelas yang sama.
Tepat di hari senin, aku bergegas melajukan mobil sport merahku menuju sekolah dengan jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi. Rencananya, hari ini aku akan mencoba menggoda gadis itu dengan memberikannya setangkai mawar putih beserta untaian kata-kata manis yang merupakan hasil otak kreatifku.
Suasana sekolah terlihat lengang saat mobilku telah berhasil memasuki kawasan belajar itu. Sehari, dua hari, tiga hari, aku selalu mendapati pemandangan yang sungguh mencengangkan. Setiap hari, aku melihat kiriman bunga dan surat cintaku ia buang ke tempat sampah sebagai benda yang layaknya tak bernilai. Untungnya, aku tak pernah menuliskan namaku sebagai identitas pengirim. Alhasil, kedua sahabatku mulai mengejek dan mengolok diriku.
“Cih, baru kali ini aku melihatmu ditolak!” ejek mereka.
Airina Tasya, itulah nama gadis yang kurasa sangat sombong itu. Ia belum tahu bagaimana sifatku, aku takkan menyerah sebelum aku mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Kalau enam hari yang lalu aku mengiriminya bunga, enam hari yang akan datang kembali berbeda. Kali ini aku mengiriminya cokelat yang kurasa adalah favoritnya. Namun lihat, apa yang ia lakukan dengan cokelat-cokelat pemberianku? Ia memberikannya pada puteri Pak Hendri, satpam yang menjaga pintu gerbang sekolah. Memalukan sekali bukan!
Aku telah mendapatkan keputusan dari pemikiran panjangku selama hampir lima jam. Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku mengaku, aku benar-benar tertarik padanya.
“Airin, kamu Airin kan?” tanyaku yang saat itu tak sengaja melihatnya di kantin.
“Ya. Ada apa?” katanya dengan nada tegas.
“Aku suka sama kamu!” ucapku setelah mengambil oksigen beberapa saat.
Tanpa menjawab, ia meninggalkanku yang masih berdiri di tempat. Ah, memalukan sekali! Aku tidak menyerah, aku mengejarnya dan berusaha meraih tangannya untuk menghentikannya, namun tiba-tiba seorang gadis tomboy yang kurasa bernama Irma menghadangku.
“Hey Rio, Airin itu nggak bakal suka sama kamu. Dia Cuma suka Ikhwan alim. Yang tahu agama, yang bisa ngebimbing dia mencari cinta sejati.” Papar Irma padaku.
“Sok tau loe!” sergah ku.
“Asal loe tau ya, itu semua impian para gadis kaya Airin. Gue baca di novel!” katanya lagi.
Hari-hari terlewati dengan pemikiranku yang terus tertuju kepada Airin beserta uraian yang telah dipaparkan secara tegas oleh Irma padaku. Waktu pun telah berlalu dan terlewatilah 60 hari masa waktuku untuk meluluhkan hatinya. Aku bisa saja gembira karena tidak perlu lagi mengumpulkan kecerdasan otakku untuk mengolah ide kreatif guna memberinya kejutan. Masalah yang kumiliki sekarang adalah bahwa aku menyukainya. Ah tidak, kurasa aku mencintainya, benar-benar mencintainya. Dari berbagai sumber yang telah kuketahui, kudapatkan sebuah informasi menarik agar bisa mendapatkan hati sang bidadari seperti Airin. Ya, aku akan berpindah sekolah menuju tempat yang menurut pemikiran kolotku dahulu adalah sebuah penjara yang bernama Pesantren.
Perpisahan dengan dua sahabat karibku telah dilakukan, dan inilah saat terakhir yang telah kunantikan. Aku ingin meliahat pemompa semangatku yang terakhir kali.
“Airin, ini untukmu. Ku mohon, jangan dibuang ya.” Pintaku dengan memberi sebuah kado padanya.
Aku pun memasuki mobil setelah menemuinya yang saat itu telah bersiap untuk memasuki mobil jemputannya.
“Airin, tunggu aku menjadi Ikhwan ya…” teriakku dari jendela mobil.
Ya, samar-samar aku melihatnya tersenyum. Manis sekali! Baiklah, aku berjanji padamu. Tunggulah aku menjadi ikhwan…
“Airin, Tunggu aku menjadi Ikhwan! Aku berjanji..”
Cerpen Karangan: Hanida Ulfah
Facebook: www.facebook.com/hanidaulfah.alfarizy
Assalamu’alaykum sahabat cerpenmu terima kasih banyak untuk para readers yang telah membaca cerpen saya yg sangat sederhana ini. Untuk itu, saya membutuhkan saran dan kritiknya untuk membangun karya yang lebih baik. Silahkan kirimkan kritik dan saran teman-teman ke facebook saya “Ukhty Hanida Alhumaira”



Ini merupakan cerita pendek karangan Hanida Ulfah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Hanida Ulfah untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

Kamis, 29 Mei 2014

Hadiah Kecil Untukmu





“Kriiiggg” suara weker itu menggema di dalam sebuah kamar bercat biru seolah memaksa sang penunggu kamar tersebut untuk bangun. Dengan malas vivi sang empunya kamar tersebut terpaksa bangkit dari tempat paling nyaman, namun saat ia hendak menuju kamar mandi dia melihat sebuah arah panah dengan perintah “follow me” walaupun sedikit bingung akhirnya vivi pun mengikuti arah panah tersebut perlahan namun pasti arah panah tersebut membawa vivi ke luar rumah sampai akhirnya panah tersebut membawanya ke sebuah taman dan di taman tersebut terdapat sebuah kotak yang menyita perhatian vivi, dengan ragu vivi pun mengambil kotak tersebut dan menemukan setangkai bunga dan sebuah surat yang isiinya
“selamat pagi matahariku, maafkan aku yang telah lancang membangunkan putri dari mimpi mu yang indah. Sekarang aku mohon tuan putri maju 7 langkah ke depan”
Vivi sangat penasaran dengan pengirim kotak tersebut akhirnya vivi pun menuruti perintah tersebut, vivi berjalan tujuh langkah ke depan dan akhirnya dia bertemu dengan dua orang lengkap dengan mobil berwarna silver
“silahkan masuk tuan putri” salah seorang dari laki laki tersebut mempersilahkan vivi masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil vivi sangat penasaran akan dia akan dibawa kemana berkali kali dia mencoba untuk bertanya kepada dua orang yang ada di sebelahnya manun tak ada satu kata pun yang terucap.
“kami telah sampaii” ucap sang supir
“sampai? memangnya kita akan kemana?” vivi terlihat agak cemas mendengar ucapan dari sang supir
“sudahlah putri percayalah pada kami, kami tidak akan melukaimu. Sekarang saya minta maaf saya mendapat perintah untuk memmakaikan putri penutup mata ini” ujar seorang laki laki bertubuh tinggi besar
“tapi-” belum selesai vivi berbicara laki laki tersebut telah memakaikannya penutup mata setelah itu vivi diarahkan masuk ke sebuah tempat yang tak tau tempat apakah itu namun vivi merasakan rambut dan wajahnya dipegang oleh orang lain
“maaf kalian ini sedang apa “tanya vivi, namun apa yang vivi dapatkan masih sama seperti saat ia di dalam mobil
“baiklah jika kalian tak mau menjawab, aku akan laporkan kalian ke polisi” berbagai ancaman dan cara telah vivi lakukan agar orang orang yang ada di sekitarnya mengucapkan satu/dua kata namun mereka masih tetap diam membisu
Satu jam berlalu akhirnya tugas orang misterius itu selasai dilakukan, vivi sekarang tampak begitu cantik dengan riasan natural di wajah cantiknya.
“maaf tuan putri, kita masih harus pergi ke suatu tempat ayo tuan putri saya bantu berdiri” kini seorang pelayan membantu vivi berjalan menuju suatu tempat
Di tempat kedua ini vivi merasa seseorang sedang memakaikannya sebuah gaun, berulang kali vivi mencoba membuka ikatan penutup matanya namun selalu saja tak berhasil.
Senja kini telah datang matahari telah pulang ke peraduannya digantikan langit gelap yang dengan bintang bintang yang bertaburan. Vivi merasakan tubuhnya lelah tiada tara hari ini dia bagaikan boneka tak berdaya yang dibawa kemana mana tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Angin malam berhembus kencang dapat vivi rasakan angin tersebut bagai menusuk kulit putih vivi, saat ini dia masih memakai penutup mata dan dua orang yang membantunya berjalan namun tak lama kemudian dapat dia rasakan dua orang tersebut telah pergi dan vivi bersyukur akhirnya penutup matanya telah dilepas. Sejenak vivi mencoba membiasakan matanya dengan cahaya remang remang dari lilin yang ada di sekitarnya, akhirnya dia menyadari dia telah memakai gaun putih indah yang sangat cocok dengan tubuhnya juga rambutnya yang disanggul
“kenapa aku berpakaian seperti ini?” vivi merasa bingung dengan keadaanya sendiri
Di saat vivi bingung dengan keadaannya sebuah layar proyektor membuat perhatianya tersita
Sebuah lantunan melodi indah terdengar dari sana, terlihat seorang laki laki tengan duduk dengan sebuah gitar di pangkuannya namun vivi tak dapat melihat jelas siapa laki laki yang ada di layar itu. Perlahan namun pasti laki laki itu pun menyanyikan sebuah lagu
MARRY U
super Junior
Love oh baby my girl
You are my all
So beautifully radiant, my bride
A gift from God
Are you happy
Tears fall from your dark eyes
Until your dark hair turns white
My love, my girl
I’ll swear my love
Saying I love you
I want to do it every day for a lifetime
Would you marry me?
Loving and cherishing you
I want to live this way
Every time you fall asleep
I want it to be in my arms
Would you marry me?
Would you consent to this heart of mine
For a lifetime I’ll be by your side, I do
Loving you, I do
Cherishing you through the snow and rain, I do
I’ll protect you, My love
You wearing a white dress
Me wearing a tuxedo
We walk, matching our pace
On the moon and star, I swear
I don’t like lies, I don’t like doubt
My loving princess
Stay with me
Even as we age
I want to go about it smiling
Would you marry me?
Would you spend my days with me
Through hardships and difficulties, I do
I’ll always be there, I do
Through our many days together, I do
I’ll be thankful every day, My love
Accept this shining ring in my hand
That I’ve prepared from awhile back
With the same feelings today
I’ll remember the promise made right now
Would you marry me
For a lifetime I’ll be by your side, I do
Loving you, I do
Cherishing you through the snow and rain, I do
I’ll protect you, My love
I have nothing else to give you but love
That’s all, hardly valuable
Though I’m clumsy and am lacking
My love, my girl
I’ll protect you
Will you promise me just one thing
That no matter what happens
We will love each other
That’s it
Will you marry me? I do
Vivi pun terhanyut dalam sebuah lagu yang laki laki itu nanyikan namun vivi merasakan seseorang berjalan menuju dirinya, akhirnya vivi pun membalikkan badanya dan menemukan seorang laki laki yang ia kenal sebagai temanya
“Kean sedang apa kau disini? kenapa kau memakai tuxedo seperti itu?” vivi bertanya dengan penuh penasaran.
Namun bukan jawaban yang ia terima, laki laki tuxedo putih itu malah bertekuk lutut dengan sebelah tangan memegang sebuah cincin di tangan kanannya
“will you marry me?” ucap laki laki bernama kean itu
“kean berhenti membohongiku ini tidak lucu sama sekali” ujar vivi dengan sedikit bergetar
“ini bukan lelucon, please trust me my baby” ujar kean
“benarkah?” setetes air mata mengalir dari mata indah vivi
“will you marry me?” ulang kean sekali lagi masih dengan pose bersimpuh
“I do” ujar vivi singkat
Dengan perlahan kean pun memasangkan cincin berlian putih di tangan vivi
“jangan dulu bersedih aku masih punya sesuatu yang lain untukmu” ujar kean sambil menutup kedua mata vivi, dengan perlahan kean membimbing vivi menghadap sebuah gedung perkantoran
“satu, dua, tiga” perlahan kean pun melepaskan tangannya dari mata vivi, sejurus kemudian sebuah tulisan “HAPPY BRITHDAY” muncul di atas gedung perkantoran tepat di mata vivi dengan diiringi letusan kembang api yang makin menambah keindahan malam itu
“apa kau merencanakan semua ini?” ujar vivi masih terkejut dengan apa yang kean persiapkan
“tentu, it’s only for you just for you” ujar kean seraya tersenyum
Perlahan vivi mendekat ke arah kean dan akhirnya mereka berdua pun berpelukan dengan di temani letusan kembang api