Namaku Rio, lengkapnya adalah Rio Irwan Anggara. Putra seorang pengusaha kaya raya yang memiliki banyak cabang di berbagai pelosok kota di Indonesia. Fisikku tampan, berkulit putih, dan tentunya memiliki senyuman maut yang dapat meluluhkan semua siswi di sekolahku. Ah tidak, kurasa dugaannku salah kali ini. Di suatu pagi saat aku telah memasuki area sekolah, aku disambut banyak fans yang tentunya telah menantiku di hari itu yang menggunakan mobil sport keluaran terbaru. Sekeluranya aku dari benda beroda itu, aku dikelilingi oleh banyak wanita yang tidak lain merupakan siswa yang sama denganku, SMA Citra Bangsa, sekolah para anak pengusaha kaya dan bonafid di area Jakarta pusat.
Disaat aku tengah asyik menikmati kerumunan para
gadis-gadis cantik itu, aktivitasku terhenti setelah dua teman setiaku
menghampiri.
“Hey Bro, bawa mobil baru lagi nih!” ujar Fano,
menyapaku.
“Yoi bro, biasa lah.. bokap gue lagi baik.” Jawabku
yang sedang sibuk mengeluarkan diri dari kerumunan.
“Hebat loe bro, gue aja minta dari dua bulan yang
lalu nggak direspon-respon sama bokap. Padahal, dia baru menangani proyek real
estate. Pelit dia.” Dion curhat padaku dan Fano.
Begitulah yang terjadi jika ketiga anak
pengusaha-pengusaha seperti kami berkumpul. Selalu saja saling pamer dan
membicarakan hal-hal yang terdengar mengasyikkan.
Tiba-tiba perbincangan kami terhenti saat seorang
gadis cantik berjilbab lebar kali panjang melangkahkan kakinya melewati kami
dengan langkah menunduk.
“Alah.. dia itu sok alim bro. Di kelas saja jarang
bicara, pelit kata-kata.” Adu Fano dengan menampakkan tatapan tidak suka pada
gadis itu.
Anehnya, aku merasakan sesuatu yang tidak biasa di
hatiku, ada sesuatu yang bergetar tatkala kulihat wajah menunduknya yang
terlihat bercahaya.
“Bro, mau tantangan?” tawar Dion sembari menatap
gadis itu.
Tanpa kelanjutan kata pun aku sudah paham dengan
maksudnya, ia menantangku untuk mendaparkan seorang gadis berjilbab seperti
dia.
“Oke, kalau gue bisa bagaimana?” sahutku mantap.
“Gue akan ngasih ticket VIP pertandingan tim favorit
loe, Barcelona vs Real Madrid. Nah, secara otomatis waktu loe dua bulan untuk
menaklukan hati tuh cewek.” Papar Fano kemudian.
Setelah aku menyepakati perjanjian tersebut, aku pun
segera melarikan diri menuju kelas yang dimana kedua sahabatku tak berada dalam
satu kelas yang sama.
Tepat di hari senin, aku bergegas melajukan mobil
sport merahku menuju sekolah dengan jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Rencananya, hari ini aku akan mencoba menggoda gadis itu dengan memberikannya
setangkai mawar putih beserta untaian kata-kata manis yang merupakan hasil otak
kreatifku.
Suasana sekolah terlihat lengang saat mobilku telah
berhasil memasuki kawasan belajar itu. Sehari, dua hari, tiga hari, aku selalu
mendapati pemandangan yang sungguh mencengangkan. Setiap hari, aku melihat
kiriman bunga dan surat cintaku ia buang ke tempat sampah sebagai benda yang
layaknya tak bernilai. Untungnya, aku tak pernah menuliskan namaku sebagai
identitas pengirim. Alhasil, kedua sahabatku mulai mengejek dan mengolok
diriku.
“Cih, baru kali ini aku melihatmu ditolak!” ejek
mereka.
Airina Tasya, itulah nama gadis yang kurasa sangat
sombong itu. Ia belum tahu bagaimana sifatku, aku takkan menyerah sebelum aku
mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Kalau enam hari yang lalu aku mengiriminya
bunga, enam hari yang akan datang kembali berbeda. Kali ini aku mengiriminya
cokelat yang kurasa adalah favoritnya. Namun lihat, apa yang ia lakukan dengan
cokelat-cokelat pemberianku? Ia memberikannya pada puteri Pak Hendri, satpam
yang menjaga pintu gerbang sekolah. Memalukan sekali bukan!
Aku telah mendapatkan keputusan dari pemikiran
panjangku selama hampir lima jam. Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa aku
benar-benar mencintainya. Aku mengaku, aku benar-benar tertarik padanya.
“Airin, kamu Airin kan?” tanyaku yang saat itu tak
sengaja melihatnya di kantin.
“Ya. Ada apa?” katanya dengan nada tegas.
“Aku suka sama kamu!” ucapku setelah mengambil
oksigen beberapa saat.
Tanpa menjawab, ia meninggalkanku yang masih berdiri
di tempat. Ah, memalukan sekali! Aku tidak menyerah, aku mengejarnya dan
berusaha meraih tangannya untuk menghentikannya, namun tiba-tiba seorang gadis
tomboy yang kurasa bernama Irma menghadangku.
“Hey Rio, Airin itu nggak bakal suka sama kamu. Dia
Cuma suka Ikhwan alim. Yang tahu agama, yang bisa ngebimbing dia mencari cinta
sejati.” Papar Irma padaku.
“Sok tau loe!” sergah ku.
“Asal loe tau ya, itu semua impian para gadis kaya
Airin. Gue baca di novel!” katanya lagi.
Hari-hari terlewati dengan pemikiranku yang terus
tertuju kepada Airin beserta uraian yang telah dipaparkan secara tegas oleh
Irma padaku. Waktu pun telah berlalu dan terlewatilah 60 hari masa waktuku
untuk meluluhkan hatinya. Aku bisa saja gembira karena tidak perlu lagi mengumpulkan
kecerdasan otakku untuk mengolah ide kreatif guna memberinya kejutan. Masalah
yang kumiliki sekarang adalah bahwa aku menyukainya. Ah tidak, kurasa aku
mencintainya, benar-benar mencintainya. Dari berbagai sumber yang telah
kuketahui, kudapatkan sebuah informasi menarik agar bisa mendapatkan hati sang
bidadari seperti Airin. Ya, aku akan berpindah sekolah menuju tempat yang
menurut pemikiran kolotku dahulu adalah sebuah penjara yang bernama Pesantren.
Perpisahan dengan dua sahabat karibku telah dilakukan,
dan inilah saat terakhir yang telah kunantikan. Aku ingin meliahat pemompa
semangatku yang terakhir kali.
“Airin, ini untukmu. Ku mohon, jangan dibuang ya.”
Pintaku dengan memberi sebuah kado padanya.
Aku pun memasuki mobil setelah menemuinya yang saat
itu telah bersiap untuk memasuki mobil jemputannya.
“Airin, tunggu aku menjadi Ikhwan ya…” teriakku dari
jendela mobil.
Ya, samar-samar aku melihatnya tersenyum. Manis
sekali! Baiklah, aku berjanji padamu. Tunggulah aku menjadi ikhwan…
“Airin, Tunggu aku menjadi Ikhwan! Aku berjanji..”
Cerpen Karangan: Hanida Ulfah
Facebook: www.facebook.com/hanidaulfah.alfarizy
Assalamu’alaykum sahabat cerpenmu terima kasih
banyak untuk para readers yang telah membaca cerpen saya yg sangat sederhana
ini. Untuk itu, saya membutuhkan saran dan kritiknya untuk membangun karya yang
lebih baik. Silahkan kirimkan kritik dan saran teman-teman ke facebook saya
“Ukhty Hanida Alhumaira”
Ini merupakan cerita pendek karangan Hanida Ulfah,
kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Hanida Ulfah untuk membaca
cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu,
jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!







